Di masa kekuasaan Bani Umayyah, ketika banyak penguasa hidup dalam kemewahan, muncul seorang khalifah yang berbeda. Namanya Umar bin Abdul Aziz, cucu dari Sayyidina Umar bin Khattab — seorang pemimpin yang dikenal jujur, adil, dan mencintai rakyatnya.
Sejak muda, Umar bin Abdul Aziz tumbuh dalam lingkungan istana. Ia bisa saja menikmati kemewahan, namun hatinya selalu terpaut pada nilai keadilan dan takut kepada Allah. Ketika diangkat menjadi khalifah, ia berkata lirih,
“Aku kini memikul beban yang berat. Tidak ada kebahagiaan bagiku hingga aku memastikan tidak ada satu pun rakyatku yang terzalimi.”
1. Menolak Fasilitas Negara untuk Kepentingan Pribadi
Suatu malam, saat Umar bin Abdul Aziz sedang menulis surat urusan negara, lampu minyak di ruang kerjanya padam. Ia lalu meminta pelayannya mengganti minyak lampu. Namun, begitu urusan negara selesai dan pembicaraan beralih ke hal pribadi, ia memadamkan lampu itu dan menyalakan lampu milik pribadinya.
Pelayannya heran, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau repot menukar lampu?”
Umar menjawab tegas,
“Lampu yang pertama dibeli dari baitul mal, harta milik rakyat. Aku tidak mau menggunakan harta rakyat untuk kepentinganku sendiri.”
Sebuah pelajaran kecil, tapi maknanya besar — bahwa integritas dimulai dari hal-hal sederhana.
2. Mengembalikan Harta yang Bukan Haknya
Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar memeriksa semua kekayaannya. Ia mendapati sebagian besar berasal dari pemberian istana dan fasilitas negara. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk mengembalikan seluruhnya ke baitul mal (kas negara).
Istrinya, Fatimah — putri dari khalifah sebelumnya — bahkan rela menyerahkan perhiasan dan hartanya agar suaminya tidak merasa bersalah menggunakan sesuatu yang bukan haknya.
“Wahai Fatimah, aku tidak ingin ada api neraka di antara kita hanya karena harta dunia,” katanya lembut.
3. Rakyat Sejahtera Karena Kejujurannya
Dalam masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang hanya sekitar dua tahun setengah, negeri Islam menjadi makmur luar biasa. Disebutkan dalam sejarah, tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat, karena semua rakyat sudah sejahtera.
Kejujuran dan ketegasan Umar dalam menegakkan keadilan membuat pemerintahan bersih dari korupsi dan nepotisme. Ia tak segan memecat pejabat yang menyelewengkan harta rakyat, sekaligus membantu rakyat miskin dengan kebijakan yang bijak dan merata.
4. Meninggalkan Warisan Abadi
Umar bin Abdul Aziz wafat dalam usia muda, namun warisannya abadi: teladan kepemimpinan yang bersih, adil, dan takut kepada Allah.
Ia membuktikan bahwa kekuasaan bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk melayani rakyat dan menegakkan amanah.
“Keadilan adalah fondasi kekuasaan. Jika keadilan hilang, maka kekuasaan hanyalah tirani,” demikian prinsip hidupnya.

